MENENTUKAN HARGA JUAL PRODUK FASHION
Adalah sesuatu yang wajar dalam berbisnis, kita tentu ingin memproduksi atau membeli sebuah produk dengan harga semurah murahnya dan menjual setinggi tingginya. Tapi apa pun, yang pada gilirannya menjadi keputusan kita untuk menjualnya, semua tentu ada plus minusnya.
Sungguh tidak mudah menentukan harga jual yang tepat, terlebih dalam kondisi daya beli yang belum begitu kuat. Semuanya tergantung kepada kondisi pasar, jenis produk fashion yang kita jual dan cara kita menjualnya dan harapan kita akan keuntungan yang didapat.
Menjual produk secara grosir tentunya berbeda dengan menjualnya secara eceran/satuan. Sudah barang tentu pembelian dalam jumlah besar (yang biasanya untuk dijual lagi), misalnya, akan lebih murah, terlebih bila pembayarannya dilakukan secara tunai. Tentunya ada ekstra diskon yang bisa diberikan, terlebih bagi pembeli yang sudah menjadi pelanggan kita dan bisa memberikan perputaran keuntungan yang cepat untuk bisa menambah budget investasi kita.
Begitu juga produk fashion yang dibuat custom made satuan yang unik dan butuh waktu ketrampilan pengerjaannya karena, misalnya, ada bordiran, aplikasi atau proses lainnya tentu berbeda dengan produk mass market pakaian jadi yang sifatnya lebih massal dan kurang eksklusif. Tak jarang malah harga custom made atau produk high fashion menjadi relatif lebih mahal karena kesulitan pengerjaannya, misalnya, karena pecah polanya yang sulit.
Pada dasarnya, ada pepatah Cina, yang mengatakan ada rupa ada harga. Artinya, harga yang kita bayar adalah sesuai dengan kelebihan yang kita dapatkan, mulai dari kualitasnya, kenyamanannya sampai ke eksklusivitasnya.
Inilah yang sering disebut value for money. Uang yang kita keluarkan setara dengan apa yang kita dapatkan. Karena itulah, biasanya ada perbedaan mark up ( selisih target keuntungan awal antara harga beli dan harga jual) antara produk basic, semi fashion/update dan produk yang benar2 trendy.
Produk basic biasanya dijual dengan harga yang kompetitif mengingat produk ini dari segi desain biasanya mirip mirip antara brand satu dan lainnya dan kebanyakan dibuat dalam versi yang tak jauh berbeda karena memang produk jenis ini biasanya memang produk yang disukai orang pada umumnya. Untuk itulah keuntungannya biasanya tidak diperhitungkan dari keuntungan satuan tapi dilihat dari volume penjualan yang besar. Sedangkan untuk produk fashion yang benar2 trendy dan biasanya life cycle-nya juga terbatas dan tidak semua orang awam bisa mengapresiasi, biasanya dipatok mark up awal yang lebih tinggi yang berdampak harga jual yang juga lebih tinggi karena ada faktor resiko (tidak laku) yang juga harus diperhitungkan di dalamnya.
Secara umum, koleksi pakaian jadi, menempatkan produk fashion lebih sebagai pelengkap untuk menunjukkan bahwa brand yang bersangkutan juga punya koleksi yang unik dan berbeda dari merk lainnya dan juga tak ketinggalan trend dalam mengusung sebuah tema. Sedangkan porsi terbesar sebuah koleksi biasanya ada dalam kategori produk semi fashion dimana posisi produk yang dijualnya memiliki desain yang spesial dengan keunikan detil, bahan atau corak yang menarik dalam desain yang bisa diterima orang pada umumnya.
Adapun dalam penentuan harga jualnya, sebuah brand tentunya harus cermat menentukan mark up yang tepat bilamana ingin menghasilkan produk yang laku dijual dengan turnover (perputaran) sales to stock ratio yang pas dan memberikan nett margin yang bagus mengingat ada operating expense (biaya sewa tempat, gaji karyawan/SPG, biaya maintenance dan lainnya),, budget kerugian mark down/diskon, pajak dan lainnya serta bunga bank (bilamana ada pinjaman kredit) yang juga harus diperhitungkan. Karena itulah untuk mengejar sales performance yang baik sebuah brand banyak mengandalkan juga pada best seller product, atau key item product dan best buy item untuk mengeruk tambahan keuntungan dari produk yang punya value for money ini.
Bagaimanapun, kondisi kompetisi di lapangan perlu diperhitungkan selain perlu biaya pemasaran dan event. (Harry Gunawan)
Adalah sesuatu yang wajar dalam berbisnis, kita tentu ingin memproduksi atau membeli sebuah produk dengan harga semurah murahnya dan menjual setinggi tingginya. Tapi apa pun, yang pada gilirannya menjadi keputusan kita untuk menjualnya, semua tentu ada plus minusnya.
Sungguh tidak mudah menentukan harga jual yang tepat, terlebih dalam kondisi daya beli yang belum begitu kuat. Semuanya tergantung kepada kondisi pasar, jenis produk fashion yang kita jual dan cara kita menjualnya dan harapan kita akan keuntungan yang didapat.
Menjual produk secara grosir tentunya berbeda dengan menjualnya secara eceran/satuan. Sudah barang tentu pembelian dalam jumlah besar (yang biasanya untuk dijual lagi), misalnya, akan lebih murah, terlebih bila pembayarannya dilakukan secara tunai. Tentunya ada ekstra diskon yang bisa diberikan, terlebih bagi pembeli yang sudah menjadi pelanggan kita dan bisa memberikan perputaran keuntungan yang cepat untuk bisa menambah budget investasi kita.
Begitu juga produk fashion yang dibuat custom made satuan yang unik dan butuh waktu ketrampilan pengerjaannya karena, misalnya, ada bordiran, aplikasi atau proses lainnya tentu berbeda dengan produk mass market pakaian jadi yang sifatnya lebih massal dan kurang eksklusif. Tak jarang malah harga custom made atau produk high fashion menjadi relatif lebih mahal karena kesulitan pengerjaannya, misalnya, karena pecah polanya yang sulit.
Pada dasarnya, ada pepatah Cina, yang mengatakan ada rupa ada harga. Artinya, harga yang kita bayar adalah sesuai dengan kelebihan yang kita dapatkan, mulai dari kualitasnya, kenyamanannya sampai ke eksklusivitasnya.
Inilah yang sering disebut value for money. Uang yang kita keluarkan setara dengan apa yang kita dapatkan. Karena itulah, biasanya ada perbedaan mark up ( selisih target keuntungan awal antara harga beli dan harga jual) antara produk basic, semi fashion/update dan produk yang benar2 trendy.
Produk basic biasanya dijual dengan harga yang kompetitif mengingat produk ini dari segi desain biasanya mirip mirip antara brand satu dan lainnya dan kebanyakan dibuat dalam versi yang tak jauh berbeda karena memang produk jenis ini biasanya memang produk yang disukai orang pada umumnya. Untuk itulah keuntungannya biasanya tidak diperhitungkan dari keuntungan satuan tapi dilihat dari volume penjualan yang besar. Sedangkan untuk produk fashion yang benar2 trendy dan biasanya life cycle-nya juga terbatas dan tidak semua orang awam bisa mengapresiasi, biasanya dipatok mark up awal yang lebih tinggi yang berdampak harga jual yang juga lebih tinggi karena ada faktor resiko (tidak laku) yang juga harus diperhitungkan di dalamnya.
Secara umum, koleksi pakaian jadi, menempatkan produk fashion lebih sebagai pelengkap untuk menunjukkan bahwa brand yang bersangkutan juga punya koleksi yang unik dan berbeda dari merk lainnya dan juga tak ketinggalan trend dalam mengusung sebuah tema. Sedangkan porsi terbesar sebuah koleksi biasanya ada dalam kategori produk semi fashion dimana posisi produk yang dijualnya memiliki desain yang spesial dengan keunikan detil, bahan atau corak yang menarik dalam desain yang bisa diterima orang pada umumnya.
Adapun dalam penentuan harga jualnya, sebuah brand tentunya harus cermat menentukan mark up yang tepat bilamana ingin menghasilkan produk yang laku dijual dengan turnover (perputaran) sales to stock ratio yang pas dan memberikan nett margin yang bagus mengingat ada operating expense (biaya sewa tempat, gaji karyawan/SPG, biaya maintenance dan lainnya),, budget kerugian mark down/diskon, pajak dan lainnya serta bunga bank (bilamana ada pinjaman kredit) yang juga harus diperhitungkan. Karena itulah untuk mengejar sales performance yang baik sebuah brand banyak mengandalkan juga pada best seller product, atau key item product dan best buy item untuk mengeruk tambahan keuntungan dari produk yang punya value for money ini.
Bagaimanapun, kondisi kompetisi di lapangan perlu diperhitungkan selain perlu biaya pemasaran dan event. (Harry Gunawan)
Komentar
Posting Komentar