BISNIS FASHION MASA KINI
MENEROPONG GAYA BERUSAHA DI ERA KEKINIAN. Agaknya kemajuan tekhnologi telah merubah gaya hidup orang di masa kini. Termasuk juga pendekatan yang dipakai untuk menjalankan bisnis fashion.
Hal ini tidak bisa kita hindari. Lihatlah bagaimana beragam sekat jarak, kendala biaya dan kecepatan waktu, yang dulunya kerap menjadi suatu halangan buat seseorang menjalankan usahanya kini perlahan lahan mulai menemukan solusinya dengan berkembangnya sarana komunikasi lewat internet dan social media.
Ini bisa kita lihat dengan makin berkembangnya transaksi belanja fashion yang kini makin marak dilakukan lewat cara online menggantikan gaya berbelanja langsung yang terkadang buat banyak buat orang menjadi malas berbelanja karena faktor kemacetan di jalan, dan biaya parkir yang tinggi. Menariknya juga, mereka yang tinggal di kota terpencil di luar pulau pun, kini bisa dengan mudah mendapat produk yang diinginkannya tanpa harus pergi ke kota besar karena mereka bertransaksi secara online.
Di banyak negara maju sendiri pemakaian transaksi lewat cash bahkan tak sampai sepuluh persen. Bahkan sekarang ini di banyak negara maju gaya toko konservatif pun sudah bersifat self service tanpa ada pelayan toko atau kasir.! Kita cukup tap kartu kita di pintu masuk dan terakhir di pintu keluar untuk mengakhiri dan memeriksa kembali transaksi yang kita lakukan saat check out karena semua transaksi sudah diproses lewat sensor komputer.!
Begitu canggihnya tekhnologi. Bahkan kini seseorang bisa menjalankan usahanya tanpa harus punya gedung tersendiri di awal bisnisnya tapi cukup dari rumah dan bilamana perlu bertemu klien atau rekan kerja, semuanya bisa dilakukan dengan menyewa shared office atau bisa sambil ngopi di mall. Selanjutnya semua komunikasi dan transaksi bisa dilakukan cukup lewat e-Mail atau Whatapp dan lainnya untuk kepentingan approval.
Ya, cara berbisnis modern yang praktis, simpel, fleksibel dengan low cost operation telah menjadi bagian dari gaya berusaha pengusaha baru masa kini yang hidup di jaman paperless ini. Mereka tak jarang memulai usaha bisnis fashionnya tanpa modal investasi awal yang terlalu besar tapi cukup dengan mengandalkan Business/Brand Manager yang membawahi dua tim kerja inti dari tim kreatif (desainer dan visual merchandising manager) dan tim produksi (mencari sourcing dan mengontrol produksi).
Seorang business manager ini biasanya adalah seorang konseptor yang cerdas dalam membaca kebutuhan pasar dan peluang bisnis yang dikembangkan.! Ia lebih banyak menjual konsep brand dan tema koleksi rancangan yang hendak dijual berikut presentasi strategi standar penataan display di tokonya, dan standardisasi strategi marketing dan servis pelayanan kepada customernya di toko seperti halnya kita menjual sebuah produk berlisensi merk terkenal.
Tak heran kalau demi efisiensi biaya mereka pun tak punya pabrik. Semua proses produksi brand internasional tak jarang dikerjakan oleh pabrik lain yang sudah mereka kontrak (dan berbiaya murah tapi standar ) dengan lokasi pabriknya yang biasanya juga dipilih yang terdekat dengan toko penerima ke mana hasil pabrik itu akan dikirim untuk dijual. Ini tentu akan menghemat biaya distribusi yang besar dan juga mempercepat waktu pengiriman produk.
Semua hasil kerja tentunya akan standar walaupun dikerjakan oleh orang dan pabrik berbeda. Mengapa? Karena untuk itu mereka sudah punya manual proses pengerjaan yang detil sebelum semua eksekusi dilakukan. Dan untuk mengindari kecurangan dari mitra kerja pemasoknya biasanya seorang manajer tidak akan memberi tahu seluruh konsep rancangannya kepada setiap orang. Bahkan untuk mencegah kerahasiaannya tiap desain yang merupakan suatu koordinasi tema biasanya akan dipecah ke pemasok yang berbeda.
Kemajuan tekhnologi memang telah menghemat beragam pengeluaran yang lebih efisien karena tidak memerlukan banyak orang, investasi tempat dan biaya pengiriman yang juga tidak kecil.
Nah, sudah sampai tahap manakah kita memaknai kemajuan tekhnologi ini. Apakah kita sudah memanfaatkannya untuk membantu kita ataukah kita masih terjebak ke gaya hidup dan berbisnis yang lama? (Harry Gunawan)
Hal ini tidak bisa kita hindari. Lihatlah bagaimana beragam sekat jarak, kendala biaya dan kecepatan waktu, yang dulunya kerap menjadi suatu halangan buat seseorang menjalankan usahanya kini perlahan lahan mulai menemukan solusinya dengan berkembangnya sarana komunikasi lewat internet dan social media.
Ini bisa kita lihat dengan makin berkembangnya transaksi belanja fashion yang kini makin marak dilakukan lewat cara online menggantikan gaya berbelanja langsung yang terkadang buat banyak buat orang menjadi malas berbelanja karena faktor kemacetan di jalan, dan biaya parkir yang tinggi. Menariknya juga, mereka yang tinggal di kota terpencil di luar pulau pun, kini bisa dengan mudah mendapat produk yang diinginkannya tanpa harus pergi ke kota besar karena mereka bertransaksi secara online.
Di banyak negara maju sendiri pemakaian transaksi lewat cash bahkan tak sampai sepuluh persen. Bahkan sekarang ini di banyak negara maju gaya toko konservatif pun sudah bersifat self service tanpa ada pelayan toko atau kasir.! Kita cukup tap kartu kita di pintu masuk dan terakhir di pintu keluar untuk mengakhiri dan memeriksa kembali transaksi yang kita lakukan saat check out karena semua transaksi sudah diproses lewat sensor komputer.!
Begitu canggihnya tekhnologi. Bahkan kini seseorang bisa menjalankan usahanya tanpa harus punya gedung tersendiri di awal bisnisnya tapi cukup dari rumah dan bilamana perlu bertemu klien atau rekan kerja, semuanya bisa dilakukan dengan menyewa shared office atau bisa sambil ngopi di mall. Selanjutnya semua komunikasi dan transaksi bisa dilakukan cukup lewat e-Mail atau Whatapp dan lainnya untuk kepentingan approval.
Ya, cara berbisnis modern yang praktis, simpel, fleksibel dengan low cost operation telah menjadi bagian dari gaya berusaha pengusaha baru masa kini yang hidup di jaman paperless ini. Mereka tak jarang memulai usaha bisnis fashionnya tanpa modal investasi awal yang terlalu besar tapi cukup dengan mengandalkan Business/Brand Manager yang membawahi dua tim kerja inti dari tim kreatif (desainer dan visual merchandising manager) dan tim produksi (mencari sourcing dan mengontrol produksi).
Seorang business manager ini biasanya adalah seorang konseptor yang cerdas dalam membaca kebutuhan pasar dan peluang bisnis yang dikembangkan.! Ia lebih banyak menjual konsep brand dan tema koleksi rancangan yang hendak dijual berikut presentasi strategi standar penataan display di tokonya, dan standardisasi strategi marketing dan servis pelayanan kepada customernya di toko seperti halnya kita menjual sebuah produk berlisensi merk terkenal.
Tak heran kalau demi efisiensi biaya mereka pun tak punya pabrik. Semua proses produksi brand internasional tak jarang dikerjakan oleh pabrik lain yang sudah mereka kontrak (dan berbiaya murah tapi standar ) dengan lokasi pabriknya yang biasanya juga dipilih yang terdekat dengan toko penerima ke mana hasil pabrik itu akan dikirim untuk dijual. Ini tentu akan menghemat biaya distribusi yang besar dan juga mempercepat waktu pengiriman produk.
Semua hasil kerja tentunya akan standar walaupun dikerjakan oleh orang dan pabrik berbeda. Mengapa? Karena untuk itu mereka sudah punya manual proses pengerjaan yang detil sebelum semua eksekusi dilakukan. Dan untuk mengindari kecurangan dari mitra kerja pemasoknya biasanya seorang manajer tidak akan memberi tahu seluruh konsep rancangannya kepada setiap orang. Bahkan untuk mencegah kerahasiaannya tiap desain yang merupakan suatu koordinasi tema biasanya akan dipecah ke pemasok yang berbeda.
Kemajuan tekhnologi memang telah menghemat beragam pengeluaran yang lebih efisien karena tidak memerlukan banyak orang, investasi tempat dan biaya pengiriman yang juga tidak kecil.
Nah, sudah sampai tahap manakah kita memaknai kemajuan tekhnologi ini. Apakah kita sudah memanfaatkannya untuk membantu kita ataukah kita masih terjebak ke gaya hidup dan berbisnis yang lama? (Harry Gunawan)
Komentar
Posting Komentar